Membaca Arah Kiblat Generasi Z

Membaca Arah Kiblat Generasi Z

Pukul delapan malam. Di sebuah sudut kota Juang, sebuah kafe tampak benderang. Suara mesin espresso beradu dengan musik pop, tawa renyah, dan jemari yang menari di atas laptop dan Handphone. Di saat yang hampir bersamaan, beberapa blok dari sana, sebuah masjid berdiri megah namun sunyi. Setelah jamaah Isya bubar, hanya tersisa satu-dua orang yang melipat mukena atau merapikan sajadah.

Fenomena ini memicu pertanyaan besar. Mengapa ruang komunal sekuler seperti kafe jauh lebih memikat bagi Generasi Z dibandingkan ruang sakral seperti masjid? Apakah ini tanda pudarnya iman, ataukah ada yang salah dengan cara kita menyajikan “rumah Tuhan”?

Kafe sebagai “Ruang Ketiga” yang Inklusif

Bagi Gen Z, kafe bukan sekadar tempat membeli kafein. Kafe telah menjadi Third Place (ruang ketiga)—setelah rumah dan sekolah/kantor—yang menawarkan kenyamanan, koneksi, dan yang terpenting: penerimaan tanpa syarat.

Di kafe, tidak ada yang menghakimi gaya berpakaian Anda. Tidak ada yang menoleh sinis jika Anda tidak tahu “tata krama” tertentu. Inklusivitas inilah yang sering kali gagal dihadirkan oleh pengelola ruang ibadah. Masjid sering kali terasa kaku, penuh dengan aturan “jangan begini” dan “jangan begitu”, yang bagi anak muda, terasa membatasi alih-alih merangkul.

Mencari Makna

Sering ada anggapan bahwa Gen Z adalah generasi yang apatis terhadap agama. Namun, jika kita melihat lebih dalam, mereka sebenarnya adalah generasi yang sangat spiritual, namun dengan cara yang berbeda. Mereka mencari koneksi, bukan sekadar instruksi.

  • Masjid sering kali fokus pada ritual formal dan ceramah satu arah yang terkadang terasa jauh dari realitas masalah mental, karier, dan kegelisahan eksistensial anak muda.
  • Kafe menawarkan ruang untuk dialog, tempat mereka bisa mencurahkan isi hati (curhat), dan merasa menjadi bagian dari sebuah komunitas (vibe).

Ironisnya, fungsi masjid di zaman Nabi sebenarnya adalah pusat komunitas: tempat berbagi, berdiskusi, bahkan tempat berteduh bagi yang tidak punya rumah. Fungsi sosial inilah yang perlahan luntur dan berpindah ke “meja-meja kayu” di kedai kopi.

Tantangan bagi Kiblat Masa Depan

Jika masjid tetap ingin menjadi kiblat bagi generasi ini, maka pendekatannya harus bertransformasi. Bukan dengan mengubah esensi ibadah, melainkan dengan mengubah budaya penyambutannya.

  1. Relevansi Narasi: Dakwah tidak bisa lagi hanya soal ancaman, tapi soal solusi atas keresahan jiwa (kesehatan mental, etika kerja, lingkungan hidup).
  2. Ramah Ruang: Menjadikan masjid tempat yang nyaman untuk bekerja (coworking space mini) atau berdiskusi tanpa harus merasa terawasi secara negatif.
  3. Keterbukaan Hati: Mengganti wajah “penjaga masjid yang galak” dengan sosok mentor yang merangkul dan mau mendengar.

Mencari Titik Temu

Kita tidak perlu memusuhi kafe. Kafe dan masjid bisa berjalan beriringan. Namun, ketika “suara mesin kopi” lebih mampu menenangkan jiwa daripada “suara lantunan ayat,” di sanalah kita harus berhenti sejenak dan bertanya: Apakah kita sudah membuat surga terasa terlalu jauh bagi mereka yang sebenarnya ingin pulang?

Masjid tidak harus menjadi kafe, tapi masjid harus memiliki kehangatan yang membuat siapa pun yang masuk merasa diterima, dipahami, dan dicintai—sebagaimana hakikat Tuhan yang Maha Pengasih.

abdul
Latest posts by abdul (see all)

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *