Media sosial itu ibarat pasar malam. ramai, berisik, penuh warna, dan kadang bikin lupa arah pulang. Semua orang bisa bicara, semua merasa paling benar, dan yang paling cepat sering kali bukan yang paling bijak, tapi yang paling keras. Di tengah hiruk pikuk itu, moderasi beragama hadir sebagai rem darurat agar iman tidak ikut kebablasan bersama jempol.
Moderasi beragama bukan untuk membatasi ekspresi keimanan di media sosial, tapi untuk memastikan bahwa ekspresi itu bermartabat dan berakhlak.
Hari ini, banyak orang rajin berdakwah lewat status, story, dan komentar. Sayangnya, tidak sedikit yang lupa bahwa jempol juga akan dimintai pertanggungjawaban. Dalil dikutip lengkap, tapi adab sering tertinggal di kolom komentar.
Moderasi beragama mengingatkan bahwa beragama di media sosial tidak cukup dengan konten benar, tapi juga cara yang benar. Kebenaran yang disampaikan dengan emosi sering kalah cepat dari kesabaran yang ditampilkan dengan santun.
Media sosial kerap membuat orang merasa paling berani—padahal yang terjadi sering kali paling beringas. Perbedaan pendapat sedikit saja bisa berubah jadi perang komentar, lengkap dengan vonis dan label.
Di sinilah moderasi beragama bekerja: membedakan mana keberanian menyampaikan kebenaran dan mana sekadar pelampiasan emosi. Orang moderat paham bahwa menang debat belum tentu menang akhlak.
Algoritma media sosial tidak peduli apakah konten itu menyejukkan atau memecah belah—yang penting ramai. Tanpa moderasi beragama, pengguna mudah terseret arus provokasi, hoaks, dan narasi kebencian yang dibungkus dalil.
Moderasi beragama berfungsi sebagai filter iman: sebelum membagikan, bertanya dulu—ini mencerahkan atau memperkeruh? Mengajak berpikir atau memancing emosi?
Tujuan dakwah adalah mengajak, bukan mengusir. Namun di media sosial, dakwah sering berubah jadi ajang pamer kemarahan. Akibatnya, pesan agama tenggelam, yang tersisa hanya keributan.
Moderasi beragama mengajarkan bahwa dakwah yang baik itu membuat orang ingin mendekat, bukan buru-buru menutup kolom komentar.
Perpecahan hari ini tidak selalu dimulai di jalanan, tapi sering lahir di grup WhatsApp dan kolom komentar. Moderasi beragama membantu kita menjaga ukhuwah, meski berbeda pandangan.
Berbeda pendapat itu wajar. Saling mencela itu pilihan. Dan pilihan itu bisa dihindari.
Menghadapi media sosial tanpa moderasi beragama ibarat menyetir tanpa rem: cepat, tapi berbahaya. Moderasi bukan berarti diam, tapi berani bersuara dengan akhlak.
Singkatnya, kalau iman sudah di hati, biarkan jempol ikut belajar sopan. Karena di era digital ini, akhlak bukan cuma soal lisan, tapi juga soal unggahan.
- Supaya Jempol tidak Lebih Tajam dari Akhlak - Januari 28, 2026
- Beriman Teguh, Tapi Nggak Kaku Kayak Tiang Listrik - Januari 28, 2026
- Sembilan Prinsip agar Iman Tetap Waras - Januari 27, 2026
