Di negeri yang warganya bisa ribut hanya karena beda selera sambal, cara berpikir soal agama jelas butuh pendingin ruangan. Di sinilah moderasi beragama hadir—bukan buat melemahkan iman, tapi supaya iman tidak berubah jadi alat banting emosi. Intinya sederhana: beragama itu serius, tapi tidak harus galak.
Agar moderasi beragama tidak sekadar jargon di spanduk acara seminar, ada empat indikator yang jadi penandanya. Mari kita bahas satu per satu, santai tapi tetap tepat sasaran.
Orang moderat itu rajin ibadah, tapi tidak alergi bendera merah putih. Ia paham betul bahwa cinta Tuhan tidak harus lewat jalan memusuhi negara. Pancasila bukan saingan kitab suci, UUD 1945 bukan pengganti doa qunut.
Komitmen kebangsaan artinya: taat beragama dan taat bernegara. Kalau ada yang rajin ceramah tapi hobinya mencibir konstitusi, itu tandanya imannya kuat, hanya saja wawasan kebangsaannya perlu upgrade firmware.
Toleransi sering disalahpahami seolah-olah iman akan bocor kalau menghargai orang lain. Padahal iman itu bukan balon ulang tahun—tidak gampang kempes hanya karena berbeda pendapat.
Orang moderat tidak sibuk mengukur surga orang lain. Ia paham bahwa tugasnya beribadah dengan baik, bukan jadi petugas check-in akhirat. Menghormati perbedaan bukan tanda ragu pada keyakinan, tapi bukti kedewasaan dalam beragama.
Kalau agama disampaikan dengan marah-marah, jangan heran kalau yang datang malah emosi, bukan hidayah. Moderasi beragama menolak kekerasan—baik fisik maupun lisan. Tidak ada dalil yang memerintahkan menyebarkan kebenaran dengan cara mencaci.
Orang moderat tahu, tangan yang mudah mengepal biasanya kalah cepat dari akal sehat. Dakwah yang baik itu menenangkan, bukan bikin tensi naik kayak harga cabai.
Indonesia kaya budaya. Dari tahlilan sampai selamatan, dari pantun sampai tradisi adat. Orang moderat tidak langsung curiga setiap melihat budaya lokal, seolah-olah semua yang tidak ada di buku paket pasti sesat.
Selama tidak bertentangan dengan nilai dasar agama, budaya lokal justru bisa jadi kendaraan dakwah yang elegan. Agama yang membumi lebih mudah dipahami daripada agama yang terbang tinggi tapi lupa mendarat.
Empat indikator moderasi beragama ini mengajarkan satu hal penting: iman yang baik itu menenangkan, bukan menakutkan. Beragama tidak perlu keras agar terlihat benar. Justru dengan sikap tengah, agama bisa hadir sebagai solusi, bukan sumber konflik.
Singkatnya, moderasi beragama itu seperti rem dan gas dalam berkendara. Tanpa gas, kita tidak maju. Tanpa rem, kita celaka. Maka, mari beragama dengan penuh keyakinan—tapi tetap waras, santun, dan manusiawi.
- Supaya Jempol tidak Lebih Tajam dari Akhlak - Januari 28, 2026
- Beriman Teguh, Tapi Nggak Kaku Kayak Tiang Listrik - Januari 28, 2026
- Sembilan Prinsip agar Iman Tetap Waras - Januari 27, 2026

