Seni Menjadi Taat tapi Tetap Toleran

Seni Menjadi Taat tapi Tetap Toleran

Di era media sosial, orang bisa mendadak jadi “ustaz instan”. Cukup nonton satu video ceramah 30 detik, lalu merasa paling benar sedunia. Baru baca satu status provokatif, langsung share tanpa tabayyun. Padahal, sering kali yang dibagikan bukan ilmu, tapi emosi. Di sinilah pentingnya moderasi beragama: bukan untuk melemahkan iman, melainkan untuk menyehatkan cara kita beriman.

Moderasi beragama bukan berarti beragama setengah-setengah, apalagi mencampur semua ajaran jadi satu. Moderasi justru mengajarkan agar kita tetap yakin dengan agama sendiri, tapi tidak memusuhi yang berbeda. Iman tetap kokoh, tapi akhlak juga harus berdiri tegak. Karena kebenaran tidak akan jadi lebih benar hanya karena disampaikan dengan marah-marah.

Tujuan utama moderasi beragama adalah menjaga umat tetap rasional dan tidak mudah terpancing provokasi. Di tengah banjir informasi dan hoaks keagamaan, moderasi mengajarkan budaya tabayyun: cek dulu sebelum share, pikir dulu sebelum komentar. Dalam Islam ditegaskan, “Jika datang kepadamu seseorang membawa berita, maka periksalah kebenarannya.” Artinya, jangan sampai rajin salat tapi juga rajin menyebar berita yang belum tentu benar.

Selain itu, moderasi beragama bertujuan menjaga persatuan di tengah perbedaan. Indonesia bukan negara satu warna. Ada perbedaan agama, mazhab, organisasi, bahkan perbedaan cara berdoa. Kalau semua perbedaan dianggap ancaman, maka yang tersisa bukan ukhuwah, tapi unfriend massal. Moderasi mengajarkan bahwa berbeda itu wajar, bermusuhan itu pilihan, dan rukun itu keharusan.

Moderasi beragama juga ingin membentuk umat yang dewasa secara spiritual. Dewasa itu bukan yang paling keras suaranya, tapi yang paling tenang sikapnya. Bukan yang hobi melabeli sesat, tapi yang mau berdialog dengan santun. Orang yang matang imannya tidak merasa Tuhan butuh dibela dengan makian, karena akhlak lebih kuat dari sekadar argumen.

Tujuan akhirnya, moderasi beragama ingin mengembalikan agama sebagai sumber rahmat, bukan sumber ribut. Agama seharusnya menghadirkan ketenangan, bukan ketegangan; solusi, bukan sensasi. Jika beragama justru membuat orang semakin marah, mudah curiga, dan gemar menyalahkan, mungkin yang perlu diperbaiki bukan ajarannya, tapi cara memahaminya.

Singkatnya, moderasi beragama itu bukan melemahkan iman, tapi menertibkan emosi. Bukan mengurangi keyakinan, tapi menambah kebijaksanaan. Karena tujuan beragama bukan sekadar masuk surga sendiri, melainkan juga menciptakan kedamaian bagi sesama. Iman tetap kuat, akal tetap sehat, dan jempol tolong jangan sembarangan.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *