Di era media sosial, beragama kadang terasa seperti sedang ikut lomba: siapa paling rajin ibadah, siapa paling keras berpendapat, dan siapa paling cepat memberi label “sesat”. Timeline berubah jadi mimbar, kolom komentar jadi majelis taklim darurat, dan sebagian orang mendadak merasa mendapat jabatan baru sebagai polisi surga. Padahal, kalau Tuhan butuh penjaga, tentu Dia tidak akan merekrut dari kolom komentar Facebook.
Di sinilah moderasi beragama menjadi penting. Moderasi bukan berarti setengah iman, apalagi kompromi terhadap keyakinan. Moderasi adalah cara beragama yang utuh tapi tidak ugal-ugalan, taat tapi tidak galak, yakin tapi tidak merasa paling benar sendirian. Dalam istilah Islam disebut wasathiyah: jalan tengah yang adil, seimbang, dan berakal sehat. Ibarat volume speaker, iman itu tidak perlu full bass sampai merusak telinga orang lain.
Masalah umat hari ini sering bukan kurang dalil, tapi kelebihan emosi. Sedikit beda pendapat langsung tersinggung, beda mazhab dianggap ancaman, beda cara ibadah dipandang penyimpangan. Grup WhatsApp keluarga saja bisa berubah jadi arena debat teologis tanpa moderator. Moderasi hadir untuk mengingatkan: tidak semua perbedaan harus dilawan, tidak semua kebenaran harus dimenangkan. Ada yang cukup diam, senyum, dan tetap berbuat baik.
Moderasi beragama juga bukan mencampuradukkan semua agama seperti es campur rohani. Kita tetap berpegang teguh pada keyakinan masing-masing, tapi sadar bahwa hidup ini tidak diisi oleh satu jenis manusia saja. Ada tetangga beda iman, teman beda pemahaman, bahkan satu masjid pun bisa beda qunut dan tidak qunut. Kalau semua dipersoalkan, yang panas bukan neraka, tapi suasana hidup kita sendiri.
Pada akhirnya, moderasi beragama adalah soal akhlak sosial. Bukan hanya bagaimana kita beribadah kepada Tuhan, tapi bagaimana kita bersikap kepada sesama manusia. Karena kalau Tuhan Maha Penyayang, rasanya aneh kalau umat-Nya justru hobi marah-marah. Dan mungkin, tanda iman yang benar-benar matang adalah ini: semakin dekat kepada Tuhan, semakin jauh dari kebiasaan menghakimi manusia.
- Supaya Jempol tidak Lebih Tajam dari Akhlak - Januari 28, 2026
- Beriman Teguh, Tapi Nggak Kaku Kayak Tiang Listrik - Januari 28, 2026
- Sembilan Prinsip agar Iman Tetap Waras - Januari 27, 2026

