Tentang Niat Baik yang Selalu Kalah oleh Alasan Sibuk

Tentang Niat Baik yang Selalu Kalah oleh Alasan Sibuk

Kita semua memiliki daftar “nanti” yang panjang. Di puncaknya, biasanya bertengger niat-niat mulia: niat untuk lebih khusyuk beribadah, niat untuk lebih sering bersedekah, atau sesederhana niat untuk memperbaiki tutur kata. Kita ingin menjadi penghuni surga, tapi anehnya, kita memperlakukan jalan menuju ke sana seperti sebuah opsi di jadwal harian yang padat, bukan sebagai prioritas utama.

Jebakan “Waktu Luang” yang Tak Pernah Datang

Banyak dari kita terjebak dalam mitos “waktu luang.” Kita berjanji akan lebih religius setelah proyek ini selesai, atau akan lebih banyak berbuat baik setelah cicilan lunas. Namun, kenyataannya sederhana namun pahit: Waktu tidak pernah luang; kitalah yang harus meluangkan waktu.

Ironinya, untuk urusan dunia, kita adalah manajer waktu yang sangat andal:

  • Kita sanggup duduk berjam-jam dalam rapat yang melelahkan.
  • Kita bisa kehilangan waktu tanpa sadar saat scrolling media sosial.
  • Kita mampu begadang demi serial favorit atau hobi.

Namun, saat panggilan kebaikan datang, tiba-tiba kita menjadi orang paling sibuk di dunia. Kata “nanti” menjadi tameng untuk menenangkan hati yang sebenarnya tahu bahwa ia sedang menunda hal yang paling penting.

Kehidupan yang Terlalu “Berisik”

Kita sering terlalu sibuk memperbaiki hidup (ekonomi, status, pencapaian) hingga lupa memperbaiki hati. Padahal, dunia ini hanyalah perlintasan. Sangat ironis ketika kita membangun “rumah” yang megah di tempat persinggahan, namun lupa membawa bekal untuk perjalanan pulang yang abadi.

“Yang membuat surga terasa jauh bukan karena pintunya tertutup, tapi karena langkah kita terlalu sering berhenti hanya di niat.”

Menunggu kondisi ideal untuk menjadi baik adalah sebuah kesia-siaan. Jika Anda menunggu hidup tanpa masalah untuk mulai bersujud, Anda mungkin tidak akan pernah bersujud. Kebaikan tidak membutuhkan kondisi yang sempurna; ia hanya membutuhkan keberanian untuk dimulai sekarang juga.

Menghapus Fitur “Nanti” dalam Hidup

Kenyataan yang sering kita lupakan adalah bahwa ajal tidak mengenal kata “nanti”. Ia tidak memiliki fitur reminder yang akan berbunyi satu jam sebelum datang.

Surga tidak pernah menunda siapa pun yang datang mengetuk pintunya. Yang tertunda hanyalah langkah-langkah kita yang terlalu berat karena terbebani oleh urusan dunia yang sebenarnya bisa menunggu.

Jika ingin mengubah nasib akhirat, berhentilah menunggu waktu yang tepat. Karena waktu yang paling tepat untuk menuju surga adalah saat ini, di tengah kesibukan Anda, sebelum kata “nanti” berubah menjadi “andai saja”.

abdul
Latest posts by abdul (see all)

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *